Indramayu 2030: Raksasa Ekonomi atau Penonton di Rumah Sendiri

kabarnusantarasatu.onlne | Indramayu , – Pernahkah kita sejenak berhenti dan membayangkan wajah Indramayu di tahun 2030? Di tengah deru pembangunan Jawa Barat yang kian kencang, sebuah pertanyaan besar membayangi kita: 

Apakah Kota Mangga ini akan bangkit sebagai raksasa ekonomi baru, atau justru terpaku di "lampu kuning" persaingan global?

Realitas hari ini adalah alarm yang nyaring. Angka partisipasi sekolah yang masih tertahan dan terbatasnya akses pendidikan berkualitas bukan sekadar statistik di atas kertas. Ini adalah tembok tinggi yang menghambat produktivitas, membuat investor ragu, dan membiarkan sektor unggulan seperti pertanian serta perikanan sulit melakukan lompatan inovasi.

Kita harus berani jujur bahwa tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, kemiskinan akan terus menjadi lingkaran setan yang sulit diputus. Indramayu mendambakan transformasi digital yang nyata, penguatan gizi anak demi memutus rantai stunting, hingga kurikulum yang benar-benar "nyambung" dengan kebutuhan industri modern.

Pendidikan bukan lagi soal biaya yang dikeluarkan hari ini, melainkan investasi untuk menentukan posisi Indramayu sepuluh tahun ke depan.

Di tengah tantangan yang kompleks ini, publik mulai menilik sosok-sosok yang dianggap mampu mengeksekusi solusi, bukan sekadar berteori. 

Munculnya nama Raden Ganjar Tirta Pramahyana, S.H., M.H., menjadi diskursus menarik di kalangan masyarakat.
Mengapa? 

Karena ia membawa kombinasi yang jarang ditemukan: ketegasan hukum dan insting tajam dunia usaha. Sebagai Sekjen PERADI Indramayu, ia terbiasa menjaga marwah keadilan. Di sisi lain, rekam jejaknya sebagai CEO jaringan rumah makan nasional membuktikan kapasitasnya dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi akar rumput.

Indramayu tidak butuh pemimpin yang berjarak dengan rakyatnya. Sosok yang sederhana dan religius, namun memiliki visi global—mulai dari sertifikasi keterampilan digital hingga pemerataan infrastruktur pendidikan—menjadi harapan baru untuk memutus rantai keterbelakangan.

Kini bola panas ada di tangan kita semua. Sudah siapkah kita berkolaborasi dan bersuara untuk membangun Indramayu yang lebih berdaya saing?

Harapan itu ada, dan jalan menuju transformasi sedang terbentang di depan mata.

'red'